ASKEP INKONTINENSIA URINE PDF

Untuk mengetahui definisi dari Inkontinensia urine 2. Untuk mengetahui Klasifikasi dari Inkontinensia urine 3. Untuk mengetahui etiologi dari Inkontinensia urine 4. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari Inkontinensia urine 5. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostic dari Inkontinensia urine 6. Untuk mengetahui penatalaksanaan untuk Inkontinensia urine 7.

Author:Negore Mezilmaran
Country:Malaysia
Language:English (Spanish)
Genre:Career
Published (Last):14 May 2015
Pages:120
PDF File Size:14.40 Mb
ePub File Size:11.9 Mb
ISBN:803-4-71010-173-8
Downloads:60765
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Vudojas



Inkontinensia bisa bersifat permanen misalnya pada spinal cord trauma atau bersifattemporer pada wanita hamil dengan struktur dasar panggul yang lemah dapat berakibat terjadinya inkontinensia urine. Meskipun inkontinensia urine dapat terjadi pada pasien dari berbagai usia, kehilangan kontrol urinari merupakan masalah bagi lanjut usia.

Diduga disebabkan oleh perubahan otot dan fasia di dasar panggul. Tetapi kadang-kadang dijumpai penderita dengan prolapsus total uterus dan vagina dengan kontinensia urine yang baik.

Angka kejadian bervariasi, karena banyak yang tidak dilaporkan dan diobati. Di Amerika Serikat, diperkirakan sekitar juta orang dewasa mengalami gangguan ini. Gangguan ini bisa mengenai wanita segala usia. Keinginan ini demikian mendesaknya sehingga sebelum mencapai kamar kecil penderita telah membasahkan celananya. Sering didapati inkontinensia stres dan desakan secara bersamaan. Untuk menjelaskan definisi dari inkontinensia urine.

Untuk menjelaskan klasifikasi dari inkontinensia urine. Untuk menjelaskan etiologi dari inkontinensia urine. Untuk menjelaskan patofisiologi dari inkontinensia urine. Untuk menjelaskan manifestasi klinis dari inkontinensia urine. Untuk menjelaskan komplikasi dari inkontinensia urine. Untuk menjelaskan pemeriksaan diagnosis dari inkontinensia urine. Untuk menjelaskan penatalaksanaan medis dari inkontinensia urine. Untuk menjelaskan prognosis dari inkontinensia urine. Pada keadaan normal selama fase pengisian tidak terjadi kebocoran urine, walaupun kandung kemih penuh atau tekanan intraabdomen meningkat seperti sewaktu batuk, meloncat-loncat atau kencing dan peningkatan isi kandung kemih memperbesar keinginan ini.

Pada keadaan normal, dalam hal demikian pun tidak terjadi kebocoran di luar kesadaran. Pada fase pengosongan, isi seluruh kandung kemih dikosongkan sama sekali. Orang dewasa dapat mempercepat atau memperlambat miksi menurut kehendaknya secara sadar, tanpa dipengaruhi kuatnya rasa ingin kencing.

Cara kerja kandung kemih yaitu sewaktu fase pengisian otot kandung kemih tetap kendor sehingga meskipun volume kandung kemih meningkat, tekanan di dalam kandung kemih tetap rendah. Sebaliknya otot-otot yang merupakan mekanisme penutupan selalu dalam keadaan tegang. Dengan demikian maka uretra tetap tertutup.

Sewaktu miksi, tekanan di dalam kandung kemih meningkat karena kontraksi aktif otot-ototnya, sementara terjadi pengendoran mekanisme penutup di dalam uretra. Uretra membuka dan urine memancar keluar. Ada semacam kerjasama antara otot-otot kandung kemih dan uretra, baik semasa fase pengisian maupun sewaktu fase pengeluaran. Pada kedua fase itu urine tidak boleh mengalir balik ke dalam ureter refluks.

Inkontinensia urine adalah ketidakmampuan menahan air kencing. Gangguan ini lebih sering terjadi pada wanita yang pernah melahirkan daripada yang belum pernah melahirkan nulipara. Kebanyakan penderita inkontinensia telah menderita desensus dinding depan vagina disertai sisto-uretrokel. Pada wanita umumnya inkontinensia merupakan inkontinensia stres, artinya keluarnya urine semata-mata karena batuk, bersin dan segala gerakan lain dan jarang ditemukan adanya inkontinensia desakan, dimana didapatkan keinginan miksi mendadak.

Jenis inkontinensia ini dikenal karena gangguan neuropatik pada kandung kemih. Sistitis yang sering kambuh, juga kelainan anatomik yang dianggap sebagai penyebab inkontinensia stres, dapat menyebabkan inkontinensia desakan. Inkontinensia stres Stres Inkontinence Inkontinensia stres biasanya disebabkan oleh lemahnya mekanisme penutup. Keluhan khas yaitu mengeluarkan urine sewaktu batuk, bersin, menaiki tangga atau melakukan gerakan mendadak, berdiri sesudah berbaring atau duduk.

Gerakan semacam itu dapat meningkatkan tekanan dalam abdomen dan karena itu juga di dalam kandung kemih. Otot uretra tidak dapat melawan tekanan ini dan keluarlah urine. Kebanyakan keluhan ini progresif perlahan-lahan; kadang terjadi sesudah melahirkan.

Akibatnya penderita harus sering menganti pakaian dalam dan bila perlu juga pembalut wanita. Frekuensi berganti pakaian, dan juga jumlah pembalut wanita yang diperlukan setiap hari merupakan ukuran kegawatan keluhan inkontinensia ini.

Biasanya dalam pemeriksaan badan tidak dijumpai kelainan pada ginjal dan kandung kemih. Pada pemeriksaan vulvaternyata bahwa sewaktu mengejan dapat dilihat dinding depan vagina. Informasi yang penting bisa diperoleh dengan percobaan MarshallMarchetti. Penderita diminta untuk berkemih di WC sampai habis. Dalam posisi ginekologis dimasukan kateter ke dalam kandung kemih. Ditentukan jumlah urine yang tersisa. Kemudian diikuti oleh pengisian kandung kemih dengan air sampai penderita merasaingin berkemih.

Dengan demikian ditentukan kapasitas kandung kemih. Normalnya seharusnya ml. Kemudian dicoba menirukan stres yang mengakibatkan pengeluaran urine dengan meminta penderita batuk. Jika pada posisi berbaringt idakterjadi pengeluaran urine, maka percobaan diulang pada posisi berdiri dengantungkai dijauhkan satu sama lain. Pada inkontinensia stres sejati, harus terjadi pengeluaran urine pada saat ini. Kemudian dicoba dengan korentang atau dengan dua jari menekan dinding depan vagina kanan dan kiri sedemikian rupa ke arah kranial sehingga sisto-uretrokel hilang.

Penderita diminta batuk lagi. Bila sekarang pengeluaran urine terhenti maka ini menunjukkan penderita akan dapatdisembuhkan dengan operasi kelainan yang dideritanya. Pemeriksaan ini dapat ditambah dengan sistometri,sistoskopi serta kalibrasi pada uretra untuk menyingkirkan kemungkinan stenosis.

Pada foto rontgen lateral atas sistogram miksi bisa tampak sudut terbelakang vesikouretra membesar sampai atau lebih. Normalnya sudut ini sekitar Gambaranini menegaskan adanya sistokel pada pemeriksaan badan. Diagnosis dengan pengobatan inkontinensia pada wanita merupakan masalah interdisipliner antara urologi dan ginekologi. Di sini pengambilan keputusan yang tepat setidak-tidaknya sama penting seperti mutu pengobatan. Sering terdapat kelainan ginekologis yang juga harus diobati.

Kebanyakan diagnostik yang tepat ditegakkan dari kerjasama yang baik antara urolog dan ginekolog. Pada inkontinensia stres yang ringan, misalnya yang menghabiskan pembalut sehari, penderita bisa memperoleh perbaikan dengan fisioterapi dan senam untuk otot-otot dasar panggul. Pada prinsipnya pengobatan inkontinensia stres bersifat operatif.

Dikenal berbagai teknik bedah yang semuanya dapat memberikan perbaikan kasus. Semua bentuk operasi ini berlandaskan pada prinsip yang sama yaitu menarik dinding vagina ke arah ventral untuk menghilangkan sistokel dan mengembalikan sudut vesiko-uretral menjadi seperti semula. Ini dapat terlaksana dengan menjahitkan dinding vagina pada periosteum tulang pubis teknikMarshall-Marchetti ; dengan mengikatkan dinding vagina lebih lateral pada lig.

Biasanya keluhan stres dan desakan bercampur aduk. Dalam keadaan seperti ini, sangat penting diagnostik yang cermat yang juga meliputi sistometri dan pengukuran aliran. Apabila inkontinensia desakan dengan atau tanpa pembentukan sisa urine diobati dengan salah satu bedah plastik suspensi di atas, maka pola keluhan semula dapat lebih mengikat.

Komplikasi terapi bedah inkontinensia stres terutama terdiri dari pembentukan sisa urine segera dalam fase pascabedah. Biasanya masalah ini bersifat sementara dan dapat diatasi dengan kateterisasi intermiten, dengan karakter yang ditinggalkan atau lebih baik dengan drainase kandung kemih suprapubik.

Hal ini memungkinkan pencarian pembentukan sisa urine tanpa kateterisasi. Komplikasi lain biasanya berasal dari indikasi yang salah. Perforasi kandung kemih dengan kebocoran urine, infeksi saluran kemih yang berkepanjangan dan osteitis pubis pada operasiMarshall-Marchetti-Krantz merupakan komplikasi yang jarang terjadi. Biasanya terjadi akibat kandung kemih tak stabil.

Sewaktu pengisian, otot detusor berkontraksi tanpa sadar secara spontan maupun karena dirangsang misalnya batuk. Kandung kemih dengan keadaan semacam ini disebut kandung kemih tak stabil. Biasanya kontraksinya disertai dengan rasa ingin miksi. Gejala gangguan ini yaitu urgensi, frekuensi, nokturia dan nokturnal enuresis. Rasa ingin miksi biasanya terjadi, bukan hanya karena detrusor urgensi motorik , akan tetapi juga akibat fenomena sensorik urgensi sensorik.

Urgensi sensorik terjadi karena adanya faktor iritasi lokal, yang sering dihubungkan dengan gangguan meatus uretra, divertikula uretra, sistitis, uretritis dan infeksi pada vagina dan serviks. Pengobatan ditujukan pada penyebabnya. Sedang urgensi motorik lebih sering dihubungkan dengan terapi suportif, termasuk pemberian sedativa dan antikolinegrik. Pemeriksaan urodinamik yang diperlukan yaitu sistometrik.

Inkontinensia luapan Overflow Incontinence Inkontinensia luapan yaitu keluarnya urine secara involunter ketika tekanan intravesikal melebihi tekanan maksimal maksimal uretra akibat dari distensi kandung kemih tanpa adanya aktifitas detrusor.

Terjadi pada keadaan kandung kemih yang lumpuh akut atau kronik yang terisi terlalu penuh, sehingga tekanan kandung kemih dapat naik tinggi sekali tanpa disertai kontraksi sehingga akhirnya urine menetes lewat uretra secara intermitten atau keluar tetes demi tetes. Penyebab kelainan ini berasal dari penyakit neurogen, seperti akibat cedera vertebra, sklerosis multipel, penyakit serebrovaskular, meningomyelokel, trauma kapitis, serta tumor otak dan medula spinalis.

Corak atau sifat gangguan fungsi kandung kemih neurogen dapat berbeda, tergantung pada tempat dan luasnya luka, koordinasi normal antara kandung kemih dan uretra berdasarkan refleks miksi, yang berjalan melalui pusat miksi pada segmen sakral medula spinalis.

Baik otot kandung kemih maupun otot polos dan otot lurik pada uretra dihubungkan dengan pusat miksi. Otot lurik periuretral di dasar panggul yang menjadi bagian penting mekanisme penutupan uretra juga dihubungkan dengan pusat miksi sakral.

Dari pusat yang lebih atas di dalam otak diberikan koordinasi ke pusat miksi sakral. Di dalam pusat yang lebih atas ini, sekaligus masuk isyarat mengenai keadaan kandung kemih dan uretra, sehingga rasa ingin miksi disadari.

Refleks miksi juga dipengaruhi melalui pleksus pelvikus oleh persarafan simpatis dari ganglion. Sehingga miksi sebenarnya lenyap. Miksi sakral menghilangkan kesadaran atas keadaan kandung kemih.

INSUFICIENCIA RESPIRATORIA CRONICA REAGUDIZADA PDF

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN INKONTINENSIA URINE

Distensi atau pengosongan tidak sempurna. Kerusakan jaringan Ada, tapi berfungsi karena respon otot jelek bekerja Hilang kendali berkemih karena otot-otot terganggu. Gejala-gejala ini sangat spesifik untuk inkontinensia stress. Inkontinensia urgensi : ketidak mampuan menahan keluarnya urin dengan gambaran seringnya terburu-buru untuk berkemih. Mengompol pada anak yang lebih tua merupakan sesuatu yang abnormal dan menunjukan adanya kandung kemih yang tidak stabil. Gejala infeksi urine frekuensi, disuria, nokturia , obstruksi pancara lemah, menetes , trauma termasuk pembedahan, misalnya reseksi abdominoperineal , fistula menetes terus menerus , penyakit neurologis disfungsi seksual atau usus besar atau penyakit sistemik misalnya diabetes dapat menunjukan penyakit yang mendasari.

A DEFENSE OF RELIGIOUS EXCLUSIVISM ALVIN PLANTINGA PDF

Latar Belakang Inkontinensia urine merupakan pengeluaran urine secara tidak sadar, sering pada orang tua dan menyebabkan meningkatnya resiko infeksi saluran kemih, masalah psikologis, dan isolasi sosial. Inkontinensia dibagi menjadi inkontinensia akut, dan inkontinensia kronik. Inkontinensia akut atau transien bersifat tiba-tiba, biasanya berhubungan dengan kondisi pengobatan atau pembedahan. Inkontinensia kronik atau persisten dibagi menjadi stress inkontinensia, urge inkontinensia, overflow inkontinensia dan fungsional dan fungsional inkontinensia.

Related Articles